BukuSaku
Jam Animasi
Minggu, 07 Juli 2019
Kamis, 23 Mei 2019
Kamis, 16 Mei 2019
Rabu, 10 Oktober 2018
surat Lamaran Pekerjaan
Kutacane, 20 Juni
2018
Kepada Yth,
Kepala MTsN 1 Aceh
Tenggara
Di -
Tempat
Dengan Hormat,
Melalui surat
lamaran ini saya mengajukan diri untuk menjadi
Guru Honorer pada MTsN 1 Aceh Tenggara yang Bapak pimpin.
Saya bertanda
tangan di bawah ini :
Nama : SAINI RESTIANA, S.Pd
Tempat / Tanggal Lahir : Simpang Empat, 12 Desember 1990
Pendidikan : Strata 1 (s1)
Untuk
melengkapi data yang di perlukan saya lampirkan juga kelengkapan data di bawah
ini sebagai berikut :
1.
Photo
Copy Ijazah sebanyak 2 (dua) lembar
2.
Photo
Copy Kartu Keluarga (KK) sebanyak 2 (dua) lembar
3 .
Photo
Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebanyak 2 (dua) lembar
Demikian surat lamaran saya buat dengan sebenarnya dan atas
perhatian bapak saya ucapkan terima kasih.
Hormat Saya
SAINI RESTIANA, S.Pd
Rabu, 05 September 2018
Soeharto "MENGATASI G.30.S./PKI
Otobiografi
SOEHARTO
Pikiran, Ucapan
dan Tindakan
MENGATASI
“G.30.S./PKI”
Tanggal
30 september 1965. Kira-kira pukul Sembilan malam saya bersama istri saya
berada di rumah sakit gatot soebroto. Kami menengok anak kami, Tomy, yang masih
berumur empat tahun, dirawat disana karena disiram air sup yang panas. Agak
lama juga kami berada disana, maklumlah, menjaga anak yang menjadi kesayangan
semua. Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief
berjalan di depan zaal tempat Tomy dirawat. Kira-kira pukul 12
seperampat tengah malam saya disuruh istri saya cepat pulang ke rumah di Jln.
Haji Agus Salim karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu yang
baru setahun umurnya. Saya pun meninggalkan Tomy dan ibunya tetap menungguinya
di rumah sakit. Sesampai dirumah saya berbaring dan bisa cepat tidur. Tetapai
kira-kira setengah lima subuh tanggal 1 Oktober, saya kedatangan seorang
Cameraman TV-RI, Hamid. Ia baru selesai melakukan shooting film. Ia memberitahu
bahwa ia mendengar tembakan dibeberapa tempat. Saya belum berpikir panjang
waktu itu. Setengah jam kemudian tetangga kami, Mahshuri, datang memberitahu bahwa tadi ia mendengar
banyak tembakan. Mulailah saya berpikir agak panjang. Setengah jam kemudian
datanglah Broto Kusmardjo, menyampaikan kabar yang mengagetkan, mengenai
penculikan atas beberapa Pati Angkatan Darat. Maka segeralah saya bersiap
pakaian lapangan. Pukul 6 pagi, Letkol.Sadjiman, atas perintah pak Umar
Wirahadikusumah melaporkan, bahwa disekitar Monas dan Istana banyak pasukan
yang tidak dikenalnya. Saya percepat merapikan pakaian yang sudah saya kenakan,
loreng lengkap, tetapi belum mengenakan pistol, pet, dan sepatu, kepada
Letkol.Sadjiman saya sempat berkata bahwa saya sudah mendengar tentang adanya
penculikan terhadap Pak Nasution dan Jendral A.Yani serta Pati AD lainnya.
“segera kembali sajalah, dan laporkan kepada pak Umar. Saya akan cepat datang
di kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat.” Kata
saya kepada Sadjiman. Dengan segala yang sudah siap pada diri saya, saya siap
menghadapi keadaan.
Saya
ingat apa yang harus saya perbuat dalam keadaan seperti ini. Pertama-tama saya
harus tenang. Saya ingat dengan seketika, reflex dalam diri saya pribadi, dan
ingat pada pepatah jawa “Aja Kagetan, aja gumunan, aja
dumeh”. Saya kumpulkan semua informasi.
Saya
masuk lagi kekamar untuk memakai sepatu, mengenakan pet dan pistol. Sempat saya
melirik pada Mamik, si bungsu yang masih nyenyak tidur diranjang.
Saya
mengendarai jeep Toyota, sendirian, tak ada yang memerintah, tanpa pengawal,
menuju ke ku nuostrad, melalui jalan kebon sirih, Jalan Merdeka Timur. Saya
perhatikan keadaan sekeliling lebih dari biasanya. Maka saya pun menyaksikan
sendiri prajurit-prajurit berjaga di sekitar Monas, di Jalan Merdeka Timur.
Saya
lewati penjaga yang memberi hormat. Lalu masuk ke gedung kostrad. Segera saya
mendapat laporan dari piket kostrad bahwa orang terpenting, Bung Karno, tidak
jadi ke Istana, tetapai langsung ke Halim. Disebutkan, Bung Karno menggunakan
kendaraan Kombi putih, berputar di prapatan Pancoran, di depan Markas Besar
AURI. Piket itu menerima laporan telepon dari badan intel yang sedang bertugas.
Radio
sudah disetel. Pukul 07.00 tepat saya mendengarkan siaran RRI pertama mengenai
“Gerakan 30 September” yang dipimpin oleh Letkol. Untung. Deg, saya segera
mendapatkan firasat. Lagi pula saya tahu siapa itu Letkol. Untung. Saya ingat,
dia seorang yang dekat, rapat dengan PKI, malahan pernah jadi anak didik tokoh
PKI, Alimin.
Langkah
pertama yang saya ambil adalah menyelamatkan dua batalyon yang dilibatkan dalam
petualangan oleh Untung, dan sekaligus menculuti kekuatan Untung secara halus..
*
“Saya
banyak mengenal Untung sejak lama.” Kata saya. “Dan Untung sendiri sejak 1945
merupakan anak didik tokoh PKI Alimin.”
Saya
jelaskan pikiran saya mengenai pernyataan Untung bahwa gerakannya seolah-olah untuk
menghadapi apa yang dikatakannya Dewan Jenderal yang akan mengadakan kup
sehingga mereka mendahului bertindak dengan menculik para pemimpin Angkatan
Darat.
“Ia mempergunakan
dalil untuk menyelamatkan Presiden Soekarno,” kata saya. “Kenyataannya,
Presiden Soekarno saat ini tidak ada di Istana.”
“Dewan
Jenderal itu tidak ada. Apa lagi Dewan Jenderal yang akan melakukan kegiatan
politik, melakukan kup terhadap Negara dan bangsa. Itu sama sekali tidak ada.
Yang ada adalah Wanjakti, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Angkatan Darat,
dimana saya sendiri jadi anggotanya.”
“menghadapi
kejadian ini,“ kata saya seterusnya, “kita tidak hanya mencari keadilan karena
jenderal-jenderal kita telah diculik dan sebagian di bunuh, akan tetapi sebagai
prajurit sapta marga kita merasa terpanggil untuk menghadapi masalah ini,
karena yang terancam adalah Negara dan Pancasila.”
“Saya
memutuskan untuk melawan mereka”. Diam sesaat. “Terserah kepada saudara-saudara
sekalian, apakah mengekuti saya atau tidak,” saya membuka kesempatan
berbicara.” “Sebab, kalau kita tidak melawan atau menghadapi mereka, toh kita
akan mati konyol. Menurut pendapat saya, lebih baik mati membela Negara dan Pancasila
dari pada mati konyol.
Minggu, 02 September 2018
Pengantar Evaluasi Pendidikan "Teknik Nontes"
Teknik Nontes
Pada bab dahulu telah dikemukakan bahwa
kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran”
adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan
tindakan yang mengawali kegiatan evalusai dalam penilaian hasil belajar.
Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tetuang dalam bentuk tes dengan berbagai
variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang lebih sering dipergunakan
dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
Pernyataan diatas tidaklah harus
diartinkan bahwa teknik tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi
hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu
teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil
belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan
dilakukan dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire),
dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis). Teknik non-tes ini pada umunya memegang
peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari
segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknis tes sebagaimana telah dikemukakan sebelum
ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari
segi ranah proses berpikirnya (cognitive
domain).
1.
Pengamatan (observation/al-Ta-ammul)
Secara
umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan
(=data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara
sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi
sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau
proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan.observasi dapat mengukur dan menilai
hasil dan proses belajar; misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu guru
pendidikan agama menyampaikan pelajaran di kelas, tingkah laku peseta didik
pada jam-jam istirahat atau pada saat terjadinya kekosongan pelajaran, prilaku
peserta didik pada saat shalat jama’ah di musholla sekolah, ceramah-ceramah
keagamaan, upacara bendera, ibadah shalat tarawih dan sebaginya.
Observasi
dapat dilakukan baik secara partisipatif (participant
observation) maupun non partisipatif
(nonparticipant observation). Observasi dapat pula berbentuk observasi
eksperimental (experimental observation) yaitu observasi yang dilakukan dalam
situasi yang wajar (nonexperimental
observation). Pada observasi berpartisipasi, observer dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan
penilaian, seperti: guru, dosen, dan sebagainya) melibatkan diri
ditengah-tengah kegiatan observee (dalam
hal ini peserta didik yang sedang diamati tingkah lakunya, seperti murid,
siswa, mahasiswa, dan sebagainya) sedangkan pada observasi nonpartisipasi,
evaluator berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.
Pada
observasi eksperimental dimana tingkah laku yang diharapkan muncul karena
peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka
observasi memerlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang;
sedangkan pada observasi semacam ini dapat dilakukan secara sepintas lalu saja.
Jika
observasi digunakan sebagai alat evaluasi, maka harus diingat bahwa pencatatan
hasil observasi itu pada umunya jauh lebih sukar dari pada mencatat
jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap-terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes ulangan atau ujian; sebab
respon yang diperoleh dalam observasi adalah berupa tingkah laku. Mecatat
tingkah laku adalah merupakan pekerjaan yang sulit, sebab disini observer
selaku evaluator harus dapat dengan secara mencatatnya. Pencatatan terhadap
segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sakali sebab
hasil nya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung dibalik
tingkah laku peserta didik tersebut.
Observasi
yang dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang,
dikenal dengan istilah observasi sistematis (systematic observation).
Pada observasi jenis ini, observasi dilaksanakan dengan belandaskan pada
kerangka kerja yang membuat factor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.
Isi dan luas materi observasinyapun telah ditetapkan dan dibatasi secara tegas,
sehingga pengamatan sekaligus pencatatan yang dilakukan oleh evaluator dalam
rangka evaluasi hasil belajar peserta didik itu sifatnya selektif. Faktor-faktor
apa saja yang tercantum dalam pedoman observasi itulah yang diamati dan
dicatat. Diluar itu tidak perlu dilakukan pengamatan dan pencatatan. Pedoman
observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir (
blangko atau form) yang didalamnya
dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat
pada waktu berlangsungnya kegiatan para peseta didik. Berikut ini dikemukakan
dua buah contoh intrumen evaluasi berupa daftar isian dala rangka menilai
keterampilan peserta didik, dala suatu observasi sistematis.
Contoh 1:
Mata Pelajaran : Keterampilan
Topik : Membuat kaligrafi dari kertas
Kelas : ……………………..
Nama Siswa : ………………………
Hari & Tanggal :
………………………
Jam Pelajaran : ………………………
|
Hasil
penilaian dengan menggunakan instrument tersebut diatas sifatnya adalah
individual. Setelah selesai, nilai-nilai individual itu dimasukkan kedalam
daftar nilai yang sifatnya kolektif, seperti contoh berikut:
Mata Pelajaran : Keterampilan
Topik : Membuat kaligrafi dari kertas
Kelas : ……………………..
Cawu/Semester : ……………………………………………………………
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Dalam
evaluasi hasil belajar dimana dipergunakan observasi
nonsistematis, ¾
yaitu observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan
pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti ¾
maka kegiatan observer di sini semata-mata hanya dibatasi oleh tujuan dari
observer itu sendiri.
Contoh yang dapat dikemukakan di sini
2.
Wawancara (interview/al-Hiwar)
Secara
umum yang dimaksud dengan wawancara
adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan
melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah
serta tujuan yang melakukan wawancara.
a. Wawancara
terpimpin (guided interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara
berstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis (systematic interview).
b. Wawancara
tidak terpimpin (un-guided interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview), atau wawancara bebas.
Dalam
wawancara terpimpin, evaluator melakukan Tanya jawab lisan dengan pihak-pihak
yang diperlukan; misalnya wawancara dengan peserta didik, wawancara dengan
orang tua atau wali murid dan lain-lain, dalam rangka menghimpun bahan-bahan
keterangan untuk penilaian terhadap peserta didiknya. Wawancara ini sudah
dipersiapkan secara matang, yaitu dengan berpegang pada panduan wawancara (interview guide) yang butir-butir itemnya terdiri dari hal-hal yang dipandang
perlu guna mengungkap kebiasaan hidup sehari-hari dari peserta didik, hal-hal
yang disukai dan tidak disukai, keinginan atau cita-citanya, cara belajarnya,
cara menggunakan waktu luangnya, bacaannya, dan sebagainya.
Di
antara kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah, bahwa dengan melakukan
wawancara, pewawancara sebagai evaluator (dalam hal ini guru, dosen dan
lain-lain) dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan
dinilai, sehingga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan
mendalam. Dengan melakukan wawancara, peserta didik dapat mengeluarkan isi
hatinya secara lebih bebas. Melalui wawancara, data dapat diperoleh baik dalam
bentuk kualitatif maupun kuantitatif; pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas
dapat diulang dan dijelaskan lagi dan sebaliknya jawaban-jawaban yang belum
jelas dapat diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna, asalkan tidak
mempengaruhi atau mengarahkan jawaban peserta didik.
Wawancara
juga dapat dilengkapi dengan alat bantu berupa tape recorder (alat perekam
suara), sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat dicatat
dengan secara lebih lengkap. Penggunaan pedoman wawancara dan alat bantu
perekam suara itu akan sangat membantu kepada pewawancara dalam mengategorikan
dan menganalisis jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik atau orang
tua peserta didik untuk pada akhirnya dapat ditarik kesimpulannya.
Dalam
wawancara bebas, pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan kepada
peseta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu. Mereka
dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganalisis dan
menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini pewawancara atau evaluator akan
dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka
ragam. Dalam pada itu, mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi oleh
ruang dan waktu, maka sebaliknya hasil-hasil wawancara itu dicatat seketika.
Mencatat hasil wawancara terpimpin tidaklah terlalu sulit, sebab pewawancara
sudah dilengkapi dengan alat bantu berupa pedoman wawancara;sebaliknya mencatat
hasil wawancara bebas adalah jauh lebih sulit, oleh karenanya pewawancara harus
terampil dalam mencatat pokok-pokok jawaban yang diberikan oleh para interview.
3. Angket
(Questionnaire/Istifta)
Angket
(Questionnaire) juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian
hasil belajar. Berbeda dengan wawancara di mana penilai (evaluator) berhadapan
secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya,
maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil
belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja
jawaban-jawaban yang diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan yang
sebenarnya; apalagi jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket itu
kurang tajam, sehingga memungkinkan bagi responden untuk memberikan jawaban
yang diperkirakan akan melegakan atau memberikan kepuasan kepada pihak penilai.
Angket
dapat diberikan langsung kepada peserta didik, dapat pula diberikan kepada
orang tua mereka. Pada umunya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam
proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar
belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku
dan proses belajar mereka. Disamping itu juga dimaksudkan untuk memperoleh data
sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program pembelajaran.
Data
yang dapat dihimpun melalui kuesioner misalnya adalah data yang berkenaan
dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peserta didik dalam mengikuti
pelajaran, cara belajar mereka, fasilitas belajarnya, bimbingan belajar,
motivasi dan minat belajarnya, sikap belajarnya, sikap terhadap mata pelajaran
tertentu, pandangan siswa terhadap proses pembelajaran dan sikap mereka terhadap
guru.
Kueioner
sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif. Ia dapat berupa
kuesioner bentuk pilihan ganda (multiple
choice item) dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala yang mengukur
sikap, sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkap sikap peserta
didik adalah skala likert.
Berikut
ini dikemukakan contoh kuesioner bentuk pilihan ganda dan contoh kuesioner
bentuk skala rikert, dalam rangka mengungkap hasil belajar pendidikan agama
islam ranah afektif.
Contoh
1:
|
Kuesioner
Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP
Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994)
|
1.
Terhadap teman-teman sekelas
saya yang rajin dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
a.
Merasa tidak harus meniru
mereka.
b.
Merasa belum pernah memikirkan
untuk shalat dengan rajin dan khusyu’.
c.
Merasa ingin seperti mereka,
tetapi terasa masih sulit.
d.
Sedang berusaha agar saya rajin
dan khusyu’.
e.
Merasa iri hati dan ingin
seperti mereka.
2.
Dalam melaksanakan ibadah
shalat sekarang ini, saya merasa:
a.
Masih sulit untuk memusatkan
diri.
b.
Dapat berkonsentrasi tetapi
udah sekali pudar.
c.
Tidak begitu sulit untuk
berkonsentrasi.
d.
Mudah untuk melakukan pemusatan
perhatian.
e.
Senang karena dapat berdialog
dengan Allah.
3.
Para ahli agama mengatakan
bahwa berdzikir itu dapat menenenangkan hati. Terhadap pernyataan tersebut,
saya:
a.
Tidak yakin akan kebenaran
pernyataan itu.
b.
Belum yakin akan kebenaran
pernyataan itu.
c.
Belum merasakan ketenangan
walaupun sudah berdzikir.
d.
Sedikit merasa tenang setelah
berdzikir.
e.
Telah dapat mengurangi
kegelisahan hidup saya.
4.
Dalam kaitannya dengan dzikir
kepada Allah, saya:
a.
Jarang sekali melakukannya
kecuali dalam keadaan bahaya.
b.
Jarang melakukannya.
c.
Melakukan apabila ada urusan
penting saja.
d.
Melakukannya pada saat-saat
tertentu.
e.
Selalu melakukannya pada setiap
saat.
5.
………………… (dan
seterusnya)…………………..
|
Contoh
2:
|
Kuesioner
Bentuk Skala Likert dalam rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama
Islam Ranah Afektif
|
1.
Membayar infaq atau shadaqah
itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang
telah membayarkan zakatnya tidak lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.
Terhadap
pernyataan tersebut, saya:
a.
Sangat setuju.
b.
Setuju.
c.
Ragu-ragu.
d.
Tidak setuju.
e.
Sangat tidak setuju.
2.
Membayar infaq atau shadaqah
tanpa sepengetahuan orang lain itu tidak ada gunanya, sebab orang lain itu
diperlukan sekali sebagai saksi untuk membuktikan bahwa membayar infaq dah
shadaqah itu bukan termasuk orang yang bakhil.
Terhadap
pernyataan tersebut, saya:
a.
Sangat setuju.
b.
Setuju.
c.
Ragu-ragu.
d.
Tidak setuju.
e.
Sangat tidak setuju.
3.
…………………… dan seterusnya
………………….
|
Kuesioner sebagai alat evaluasi
juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik
maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui
kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi
kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik. Contoh dari kuesioner
dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
I.
ORANG TUA SISWA
A. Ayah:
1. Nama
lengkap :
…………………………………………………………….
2. Tempat
dan Tanggal Lahir : …………………………………………………………….
3. Jenjang
pendidikan : a. (
) Pendidikan Dasar.
b. (
) Pendidikan Menengah.
c.
( ) Pendidikan Tinggi.
4. Jenis
Pekerjaan : a. (
) Petani.
b. (
) Pedagang.
c.
( ) Pengusaha.
d. (
) Pegawai Negeri Sipil.
e. (
) Anggota ABRI.
f.
( ) Tidak mempunyai
pekerjaan tetap.
B. Ibu:
1. Nama
lengkap : …………………………………………………………….
2. Tempat
dan Tanggal Lahir : …………………………………………………………….
3. Jenjang
pendidikan : a. (
) Pendidikan Dasar.
b. (
) Pendidikan Menengah.
c.
( ) Pendidikan Tinggi.
4. Jenis
Pekerjaan : a. (
) Petani.
b. (
) Pedagang.
c.
( ) Pengusaha.
d. (
) Pegawai Negeri Sipil.
e. (
) Anggota ABRI.
f.
( ) Tidak mempunyai
pekerjaan tetap.
II. SISWA:
1. Nama
lengkap : ……………………………………………….
2. Tempat
dan Tanggal Lahir : ……………………………………………….
3. Jenis
kelamin : a. (
) Pria.
b. (
) Wanita.
4. Status
anak dalam keluarga : a. (
) Anak Sulung.
: b. (
) Anak Bungsu.
: c. (
) Anak ke …….
5. Jumlah
saudara kandung : ……… orang
6. Tinggal
Bersama Ayah-Ibu : a. (
) Ya.
: b. (
) Tidak.
7. Pernah
dirawat di Rumah Sakit : a. (
) Belum Pernah.
Karena Sakit yang serius : b. ( ) Pernah, karena menderita sakit
……………………………….
8.
…………………………………dan seterusnya
………………………………………………
|
4. Pemeriksaan
Dokumen (Documentary Anlysis)
Evaluasi
mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa
menguji (teknik nontes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara
melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen; misalnya dokumen yang memuat
informasi mengenai riwayat hidup (auto
biografi), seperti kapan dan dimana peserta didik dilahirkan,
agama yang dianut, kedudukan anak di dalam keluarga (anak kandung/anak
angkat/anak tiri, anak yatim/yatim piatu, anak ke berapa dari berapa orang anak
kandung/anak sulung/anak bungsu; sejak kapan diterima sebagai siswa, apakah ia
pernah meraih kejuaraan sebagai siswa yang berprestasi di sekolahnya. Apakah ia
memiliki keterampilan khas dan pernah meraih atau mendapatkan penghargaan
karena keterampilan yang dimilikinya itu; apakah yang bersangkutan pernah
menderita penyakit yang serius, jenis penyakit serius yang pernah dideritanya,
berapa lama dirawat dirumah sakit, dan sebagainya. Selain itu juga dokumen yang
memuat informasi tentang orangtua peserta didik, seperti: nama, tempat tinggal,
tempat dan tanggal lahir, agama yang dianut, pekerjaan pokoknya, tingkat atau
jenjang pendidikannya, rata-rata penghasilannya setiap bulan, dan sebagainya.
Juga dokumen yang memuat tentang lingkungan nonsosial seperti: kondisi bangunan
rumah, ruang belajar, lampu penerangan, sumber pemenuhan kebutuhan air
sehari-hari dan sebagainya.
Berbagai
informasi, baik mengenai peserta didik, orangtua dan lingkungannya itu bukan
tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap
bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.
Informasi-informasi seperti telah dikemukakan contohnya di atas, dapat direkam
melalui sebuah dokumen yang berbentuk formulir
atau blanko isian, yang harus diisi
pada saat peserta didik untuk pertama kali diterima sebagai siswa disekolah
yang bersangkutan.
Dari
uraian tersebut di atas dapatlah dipahami, bahwa dalam rangka evaluasi hasil
belajar peserta didik, evaluasi itu tidak harus semata-mata dilakukan dengan
menggunakan alat berupa tes-tes hasil belajar. Teknik-teknik nontes juga
menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil evaluasi hasil
belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peseta
didik, persepsinya terhadap guru, minatnya, bakatnya, tingkah laku atau
sikapnya, dan sebagaimana yang kesemuanya itu tidak mungkin dievaluasi dengan
menggunakan tes sebagai alat pengukurnya.
Mengingat
bahwa evaluasi hasil belajar yang paling sering dilakukan di sekolah adalah
dengan menggunakan tes hasil belajar, maka pembicaraan lebih lanjut pada
bab-bab selanjutnya akan difokuskan kepada hal-hal yang bekaitan dengan tes
hasil belajar tersebut.
pustaka
Anas Sodijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan.ed 1, Jakarta.PT.RajaGrafindo Persada,2011.
pustaka
Anas Sodijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan.ed 1, Jakarta.PT.RajaGrafindo Persada,2011.
Langganan:
Komentar (Atom)

