Jam Animasi

Rabu, 05 September 2018

Soeharto "MENGATASI G.30.S./PKI


Otobiografi
SOEHARTO
Pikiran, Ucapan dan Tindakan

MENGATASI “G.30.S./PKI”

Tanggal 30 september 1965. Kira-kira pukul Sembilan malam saya bersama istri saya berada di rumah sakit gatot soebroto. Kami menengok anak kami, Tomy, yang masih berumur empat tahun, dirawat disana karena disiram air sup yang panas. Agak lama juga kami berada disana, maklumlah, menjaga anak yang menjadi kesayangan semua. Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief berjalan di depan zaal tempat Tomy dirawat. Kira-kira pukul 12 seperampat tengah malam saya disuruh istri saya cepat pulang ke rumah di Jln. Haji Agus Salim karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu yang baru setahun umurnya. Saya pun meninggalkan Tomy dan ibunya tetap menungguinya di rumah sakit. Sesampai dirumah saya berbaring dan bisa cepat tidur. Tetapai kira-kira setengah lima subuh tanggal 1 Oktober, saya kedatangan seorang Cameraman TV-RI, Hamid. Ia baru selesai melakukan shooting film. Ia memberitahu bahwa ia mendengar tembakan dibeberapa tempat. Saya belum berpikir panjang waktu itu. Setengah jam kemudian tetangga kami, Mahshuri,  datang memberitahu bahwa tadi ia mendengar banyak tembakan. Mulailah saya berpikir agak panjang. Setengah jam kemudian datanglah Broto Kusmardjo, menyampaikan kabar yang mengagetkan, mengenai penculikan atas beberapa Pati Angkatan Darat. Maka segeralah saya bersiap pakaian lapangan. Pukul 6 pagi, Letkol.Sadjiman, atas perintah pak Umar Wirahadikusumah melaporkan, bahwa disekitar Monas dan Istana banyak pasukan yang tidak dikenalnya. Saya percepat merapikan pakaian yang sudah saya kenakan, loreng lengkap, tetapi belum mengenakan pistol, pet, dan sepatu, kepada Letkol.Sadjiman saya sempat berkata bahwa saya sudah mendengar tentang adanya penculikan terhadap Pak Nasution dan Jendral A.Yani serta Pati AD lainnya. “segera kembali sajalah, dan laporkan kepada pak Umar. Saya akan cepat datang di kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat.” Kata saya kepada Sadjiman. Dengan segala yang sudah siap pada diri saya, saya siap menghadapi keadaan.


Saya ingat apa yang harus saya perbuat dalam keadaan seperti ini. Pertama-tama saya harus tenang. Saya ingat dengan seketika, reflex dalam diri saya pribadi, dan ingat pada pepatah jawa “Aja Kagetan, aja gumunan, aja dumeh”. Saya kumpulkan semua informasi.
Saya masuk lagi kekamar untuk memakai sepatu, mengenakan pet dan pistol. Sempat saya melirik pada Mamik, si bungsu yang masih nyenyak tidur diranjang.
Saya mengendarai jeep Toyota, sendirian, tak ada yang memerintah, tanpa pengawal, menuju ke ku nuostrad, melalui jalan kebon sirih, Jalan Merdeka Timur. Saya perhatikan keadaan sekeliling lebih dari biasanya. Maka saya pun menyaksikan sendiri prajurit-prajurit berjaga di sekitar Monas, di Jalan Merdeka Timur.
Saya lewati penjaga yang memberi hormat. Lalu masuk ke gedung kostrad. Segera saya mendapat laporan dari piket kostrad bahwa orang terpenting, Bung Karno, tidak jadi ke Istana, tetapai langsung ke Halim. Disebutkan, Bung Karno menggunakan kendaraan Kombi putih, berputar di prapatan Pancoran, di depan Markas Besar AURI. Piket itu menerima laporan telepon dari badan intel yang sedang bertugas.
Radio sudah disetel. Pukul 07.00 tepat saya mendengarkan siaran RRI pertama mengenai “Gerakan 30 September” yang dipimpin oleh Letkol. Untung. Deg, saya segera mendapatkan firasat. Lagi pula saya tahu siapa itu Letkol. Untung. Saya ingat, dia seorang yang dekat, rapat dengan PKI, malahan pernah jadi anak didik tokoh PKI, Alimin.
Langkah pertama yang saya ambil adalah menyelamatkan dua batalyon yang dilibatkan dalam petualangan oleh Untung, dan sekaligus menculuti kekuatan Untung secara halus..
*
“Saya banyak mengenal Untung sejak lama.” Kata saya. “Dan Untung sendiri sejak 1945 merupakan anak didik tokoh PKI Alimin.”
Saya jelaskan pikiran saya mengenai pernyataan Untung bahwa gerakannya seolah-olah untuk menghadapi apa yang dikatakannya Dewan Jenderal yang akan mengadakan kup sehingga mereka mendahului bertindak dengan menculik para pemimpin Angkatan Darat.
“Ia mempergunakan dalil untuk menyelamatkan Presiden Soekarno,” kata saya. “Kenyataannya, Presiden Soekarno saat ini tidak ada di Istana.”
“Dewan Jenderal itu tidak ada. Apa lagi Dewan Jenderal yang akan melakukan kegiatan politik, melakukan kup terhadap Negara dan bangsa. Itu sama sekali tidak ada. Yang ada adalah Wanjakti, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Angkatan Darat, dimana saya sendiri jadi anggotanya.”
“menghadapi kejadian ini,“ kata saya seterusnya, “kita tidak hanya mencari keadilan karena jenderal-jenderal kita telah diculik dan sebagian di bunuh, akan tetapi sebagai prajurit sapta marga kita merasa terpanggil untuk menghadapi masalah ini, karena yang terancam adalah Negara dan Pancasila.”
“Saya memutuskan untuk melawan mereka”. Diam sesaat. “Terserah kepada saudara-saudara sekalian, apakah mengekuti saya atau tidak,” saya membuka kesempatan berbicara.” “Sebab, kalau kita tidak melawan atau menghadapi mereka, toh kita akan mati konyol. Menurut pendapat saya, lebih baik mati membela Negara dan Pancasila dari pada mati konyol.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar