Jam Animasi

Minggu, 02 September 2018

Pengantar Evaluasi Pendidikan "Teknik Nontes"



Teknik Nontes
Pada bab dahulu telah dikemukakan bahwa kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran”  adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evalusai dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tetuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang lebih sering dipergunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik.

Pernyataan diatas tidaklah harus diartinkan bahwa teknik tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis). Teknik non-tes ini pada umunya memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknis tes sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berpikirnya (cognitive domain).

1.        Pengamatan (observation/al-Ta-ammul)
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (=data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.

Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.observasi dapat mengukur dan menilai hasil dan proses belajar; misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu guru pendidikan agama menyampaikan pelajaran di kelas, tingkah laku peseta didik pada jam-jam istirahat atau pada saat terjadinya kekosongan pelajaran, prilaku peserta didik pada saat shalat jama’ah di musholla sekolah, ceramah-ceramah keagamaan, upacara bendera, ibadah shalat tarawih dan sebaginya.

Observasi dapat dilakukan baik secara partisipatif (participant observation) maupun non partisipatif (nonparticipant observation). Observasi dapat pula berbentuk observasi eksperimental (experimental observation) yaitu observasi yang dilakukan dalam situasi yang wajar (nonexperimental observation). Pada observasi berpartisipasi, observer dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan penilaian, seperti: guru, dosen, dan sebagainya) melibatkan diri ditengah-tengah kegiatan observee (dalam hal ini peserta didik yang sedang diamati tingkah lakunya, seperti murid, siswa, mahasiswa, dan sebagainya) sedangkan pada observasi nonpartisipasi, evaluator berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.

Pada observasi eksperimental dimana tingkah laku yang diharapkan muncul karena peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka observasi memerlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang; sedangkan pada observasi semacam ini dapat dilakukan secara sepintas lalu saja.

Jika observasi digunakan sebagai alat evaluasi, maka harus diingat bahwa pencatatan hasil observasi itu pada umunya jauh lebih sukar dari pada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap-terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes ulangan atau ujian; sebab respon yang diperoleh dalam observasi adalah berupa tingkah laku. Mecatat tingkah laku adalah merupakan pekerjaan yang sulit, sebab disini observer selaku evaluator harus dapat dengan secara mencatatnya. Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sakali sebab hasil nya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung dibalik tingkah laku peserta didik tersebut.

Observasi yang dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang, dikenal dengan istilah observasi sistematis (systematic observation). Pada observasi jenis ini, observasi dilaksanakan dengan belandaskan pada kerangka kerja yang membuat factor-faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasinyapun telah ditetapkan dan dibatasi secara tegas, sehingga pengamatan sekaligus pencatatan yang dilakukan oleh evaluator dalam rangka evaluasi hasil belajar peserta didik itu sifatnya selektif. Faktor-faktor apa saja yang tercantum dalam pedoman observasi itulah yang diamati dan dicatat. Diluar itu tidak perlu dilakukan pengamatan dan pencatatan. Pedoman observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir ( blangko atau form) yang didalamnya dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat pada waktu berlangsungnya kegiatan para peseta didik. Berikut ini dikemukakan dua buah contoh intrumen evaluasi berupa daftar isian dala rangka menilai keterampilan peserta didik, dala suatu observasi sistematis.

Contoh 1:
Mata Pelajaran            :  Keterampilan
Topik                           :  Membuat kaligrafi dari kertas
Kelas                           :  ……………………..
Nama Siswa                :  ………………………
Hari & Tanggal           :  ………………………
Jam Pelajaran              :  ………………………

No.
Kegiatan/Aspek yang dinilai
Skor/Nilai
Keterangan
1.
Persiapan alat-alat (bahan)
………….

2.
Kombinasi bahan
………….

3.
Kombinasi warna
………….

4.
Cara mengerjakan
………….

5.
Sikap waktu mengerjakan
………….

6.
Ketepatan waktu mengerjakan
…………..

7.
Kecekatan
…………..

8.
Hasil pekerjaan
…………..


Jumlah Nilai
………….


Hasil penilaian dengan menggunakan instrument tersebut diatas sifatnya adalah individual. Setelah selesai, nilai-nilai individual itu dimasukkan kedalam daftar nilai yang sifatnya kolektif, seperti contoh berikut:
Mata Pelajaran            :  Keterampilan
Topik                           :  Membuat kaligrafi dari kertas
Kelas                           :  ……………………..
Cawu/Semester           : ……………………………………………………………
No.
Nama Siswa
Skor/Nilai untuk tiap-tiap
Kegiatan/ Aspek:
Jumlah
Rata-rata
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
……………………………………………………..
…………
…………
2.
……………………………………………………..
…………
…………
3.
……………………………………………………..
…………
…………
4.
……………………………………………………..
…………
…………
5.
……………………………………………………..
…………
…………
6.
……………………………………………………..
…………
…………
7.
……………………………………………………..
…………
…………
8.
……………………………………………………..
…………
…………

……………………………………dan seterusnya ……………………………………

Dalam evaluasi hasil belajar dimana dipergunakan observasi nonsistematis, ¾ yaitu observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti ¾ maka kegiatan observer di sini semata-mata hanya dibatasi oleh tujuan dari observer itu sendiri.
Contoh yang dapat dikemukakan di sini
2.        Wawancara (interview/al-Hiwar)
Secara umum yang dimaksud dengan wawancara  adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang melakukan wawancara.
a.       Wawancara terpimpin (guided interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis (systematic interview).
b.      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview), atau wawancara bebas.

Dalam wawancara terpimpin, evaluator melakukan Tanya jawab lisan dengan pihak-pihak yang diperlukan; misalnya wawancara dengan peserta didik, wawancara dengan orang tua atau wali murid dan lain-lain, dalam rangka menghimpun bahan-bahan keterangan untuk penilaian terhadap peserta didiknya. Wawancara ini sudah dipersiapkan secara matang, yaitu dengan berpegang pada panduan wawancara (interview guide) yang butir-butir itemnya terdiri dari hal-hal yang dipandang perlu guna mengungkap kebiasaan hidup sehari-hari dari peserta didik, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, keinginan atau cita-citanya, cara belajarnya, cara menggunakan waktu luangnya, bacaannya, dan sebagainya.

Di antara kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah, bahwa dengan melakukan wawancara, pewawancara sebagai evaluator (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain) dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan dinilai, sehingga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan mendalam. Dengan melakukan wawancara, peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya secara lebih bebas. Melalui wawancara, data dapat diperoleh baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif; pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi dan sebaliknya jawaban-jawaban yang belum jelas dapat diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna, asalkan tidak mempengaruhi atau mengarahkan jawaban peserta didik.

Wawancara juga dapat dilengkapi dengan alat bantu berupa tape recorder (alat perekam suara), sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat dicatat dengan secara lebih lengkap. Penggunaan pedoman wawancara dan alat bantu perekam suara itu akan sangat membantu kepada pewawancara dalam mengategorikan dan menganalisis jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik atau orang tua peserta didik untuk pada akhirnya dapat ditarik kesimpulannya.

Dalam wawancara bebas, pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan kepada peseta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu. Mereka dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganalisis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini pewawancara atau evaluator akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Dalam pada itu, mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi oleh ruang dan waktu, maka sebaliknya hasil-hasil wawancara itu dicatat seketika. Mencatat hasil wawancara terpimpin tidaklah terlalu sulit, sebab pewawancara sudah dilengkapi dengan alat bantu berupa pedoman wawancara;sebaliknya mencatat hasil wawancara bebas adalah jauh lebih sulit, oleh karenanya pewawancara harus terampil dalam mencatat pokok-pokok jawaban yang diberikan oleh para interview.

3.      Angket (Questionnaire/Istifta)
Angket (Questionnaire) juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara di mana penilai (evaluator) berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja jawaban-jawaban yang diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya; apalagi jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket itu kurang tajam, sehingga memungkinkan bagi responden untuk memberikan jawaban yang diperkirakan akan melegakan atau memberikan kepuasan kepada pihak penilai.

Angket dapat diberikan langsung kepada peserta didik, dapat pula diberikan kepada orang tua mereka. Pada umunya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Disamping itu juga dimaksudkan untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program pembelajaran.

Data yang dapat dihimpun melalui kuesioner misalnya adalah data yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peserta didik dalam mengikuti pelajaran, cara belajar mereka, fasilitas belajarnya, bimbingan belajar, motivasi dan minat belajarnya, sikap belajarnya, sikap terhadap mata pelajaran tertentu, pandangan siswa terhadap proses pembelajaran dan sikap mereka terhadap guru.

Kueioner sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif. Ia dapat berupa kuesioner bentuk pilihan ganda (multiple choice item) dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala yang mengukur sikap, sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkap sikap peserta didik adalah skala likert.

Berikut ini dikemukakan contoh kuesioner bentuk pilihan ganda dan contoh kuesioner bentuk skala rikert, dalam rangka mengungkap hasil belajar pendidikan agama islam ranah afektif.
Contoh 1:
Kuesioner Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994)

1.      Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajin dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
a.       Merasa tidak harus meniru mereka.
b.      Merasa belum pernah memikirkan untuk shalat dengan rajin dan khusyu’.
c.       Merasa ingin seperti mereka, tetapi terasa masih sulit.
d.      Sedang berusaha agar saya rajin dan khusyu’.
e.       Merasa iri hati dan ingin seperti mereka.
2.      Dalam melaksanakan ibadah shalat sekarang ini, saya merasa:
a.       Masih sulit untuk memusatkan diri.
b.      Dapat berkonsentrasi tetapi udah sekali pudar.
c.       Tidak begitu sulit untuk berkonsentrasi.
d.      Mudah untuk melakukan pemusatan perhatian.
e.       Senang karena dapat berdialog dengan Allah.
3.      Para ahli agama mengatakan bahwa berdzikir itu dapat menenenangkan hati. Terhadap pernyataan tersebut, saya:
a.       Tidak yakin akan kebenaran pernyataan itu.
b.      Belum yakin akan kebenaran pernyataan itu.
c.       Belum merasakan ketenangan walaupun sudah berdzikir.
d.      Sedikit merasa tenang setelah berdzikir.
e.       Telah dapat mengurangi kegelisahan hidup saya.
4.      Dalam kaitannya dengan dzikir kepada Allah, saya:
a.       Jarang sekali melakukannya kecuali dalam keadaan bahaya.
b.      Jarang melakukannya.
c.       Melakukan apabila ada urusan penting saja.
d.      Melakukannya pada saat-saat tertentu.
e.       Selalu melakukannya pada setiap saat.
5.      ………………… (dan seterusnya)…………………..


Contoh 2:
Kuesioner Bentuk Skala Likert dalam rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Ranah Afektif

1.      Membayar infaq atau shadaqah itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang telah membayarkan zakatnya tidak lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.
Terhadap pernyataan tersebut, saya:
a.       Sangat setuju.
b.      Setuju.
c.       Ragu-ragu.
d.      Tidak setuju.
e.       Sangat tidak setuju.
2.      Membayar infaq atau shadaqah tanpa sepengetahuan orang lain itu tidak ada gunanya, sebab orang lain itu diperlukan sekali sebagai saksi untuk membuktikan bahwa membayar infaq dah shadaqah itu bukan termasuk orang yang bakhil.
Terhadap pernyataan tersebut, saya:
a.       Sangat setuju.
b.      Setuju.
c.       Ragu-ragu.
d.      Tidak setuju.
e.       Sangat tidak setuju.
3.      …………………… dan seterusnya ………………….


Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik. Contoh dari kuesioner dimaksud diatas adalah sebagai berikut:

I.          ORANG TUA SISWA
A.     Ayah:
1.      Nama lengkap                   :   …………………………………………………………….
2.      Tempat dan Tanggal Lahir            :   …………………………………………………………….
3.      Jenjang pendidikan                       :  a. (     ) Pendidikan Dasar.
                                            b. (     ) Pendidikan Menengah.
                                            c.  (     ) Pendidikan Tinggi.

4.      Jenis Pekerjaan                 :  a. (     ) Petani.
                                            b. (     ) Pedagang.
                                            c.  (     ) Pengusaha.
                                            d. (     ) Pegawai Negeri Sipil.
                                            e. (     ) Anggota ABRI.
                                            f.  (     ) Tidak mempunyai pekerjaan tetap.
B.     Ibu:
1.      Nama lengkap                   :   …………………………………………………………….
2.      Tempat dan Tanggal Lahir            :   …………………………………………………………….
3.      Jenjang pendidikan                       :  a. (     ) Pendidikan Dasar.
                                            b. (     ) Pendidikan Menengah.
                                            c.  (     ) Pendidikan Tinggi.

4.      Jenis Pekerjaan                 :  a. (     ) Petani.
                                            b. (     ) Pedagang.
                                            c.  (     ) Pengusaha.
                                            d. (     ) Pegawai Negeri Sipil.
                                            e. (     ) Anggota ABRI.
                                                  f.  (     ) Tidak mempunyai pekerjaan tetap.


II.       SISWA:
1.      Nama lengkap                         :   ……………………………………………….
2.      Tempat dan Tanggal Lahir      :   ……………………………………………….
3.      Jenis kelamin                          :   a. (     ) Pria.
                                                   b. (     ) Wanita.
4.      Status anak dalam keluarga     :   a. (     ) Anak Sulung.
                                               :   b. (     ) Anak Bungsu.
                                               :   c. (     ) Anak ke …….
5.      Jumlah saudara kandung        : ……… orang
6.      Tinggal Bersama Ayah-Ibu     :  a. (     ) Ya.
                                               :  b. (     ) Tidak.
7.      Pernah dirawat di Rumah Sakit           :  a. (     ) Belum Pernah.
Karena Sakit yang serius         :  b. (     ) Pernah, karena menderita sakit ……………………………….
8.      …………………………………dan seterusnya ………………………………………………

4.      Pemeriksaan Dokumen (Documentary Anlysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik nontes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen; misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi), seperti  kapan dan dimana peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, kedudukan anak di dalam keluarga (anak kandung/anak angkat/anak tiri, anak yatim/yatim piatu, anak ke berapa dari berapa orang anak kandung/anak sulung/anak bungsu; sejak kapan diterima sebagai siswa, apakah ia pernah meraih kejuaraan sebagai siswa yang berprestasi di sekolahnya. Apakah ia memiliki keterampilan khas dan pernah meraih atau mendapatkan penghargaan karena keterampilan yang dimilikinya itu; apakah yang bersangkutan pernah menderita penyakit yang serius, jenis penyakit serius yang pernah dideritanya, berapa lama dirawat dirumah sakit, dan sebagainya. Selain itu juga dokumen yang memuat informasi tentang orangtua peserta didik, seperti: nama, tempat tinggal, tempat dan tanggal lahir, agama yang dianut, pekerjaan pokoknya, tingkat atau jenjang pendidikannya, rata-rata penghasilannya setiap bulan, dan sebagainya. Juga dokumen yang memuat tentang lingkungan nonsosial seperti: kondisi bangunan rumah, ruang belajar, lampu penerangan, sumber pemenuhan kebutuhan air sehari-hari dan sebagainya.

Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik, orangtua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya. Informasi-informasi seperti telah dikemukakan contohnya di atas, dapat direkam melalui sebuah dokumen yang berbentuk formulir atau blanko isian, yang harus diisi pada saat peserta didik untuk pertama kali diterima sebagai siswa disekolah yang bersangkutan.

Dari uraian tersebut di atas dapatlah dipahami, bahwa dalam rangka evaluasi hasil belajar peserta didik, evaluasi itu tidak harus semata-mata dilakukan dengan menggunakan alat berupa tes-tes hasil belajar. Teknik-teknik nontes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peseta didik, persepsinya terhadap guru, minatnya, bakatnya, tingkah laku atau sikapnya, dan sebagaimana yang kesemuanya itu tidak mungkin dievaluasi dengan menggunakan tes sebagai alat pengukurnya.

Mengingat bahwa evaluasi hasil belajar yang paling sering dilakukan di sekolah adalah dengan menggunakan tes hasil belajar, maka pembicaraan lebih lanjut pada bab-bab selanjutnya akan difokuskan kepada hal-hal yang bekaitan dengan tes hasil belajar tersebut.

pustaka
Anas Sodijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan.ed 1, Jakarta.PT.RajaGrafindo Persada,2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar