KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan,
tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah
Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya
yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul ”TAUHIDULLAH”.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada teman teman yang telah memberikan dukungan, kasih, dan
kepercayaan yang begitu besar.Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga
semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang
lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi.
DAFTAR ISI
Kata pengantar ...................................................................................................... i
Daftar isi ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang....................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................. 2
BAB II : PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tauhid ................................................................. 3
B.
Macam-macam Tauhid ........................................................ 4
BAB II : PENUTUP
A.
Kesimpulan 9
Daftar
pustaka ...................................................................................................... 10
1.1 LATAR BELAKANG
Jika kita melihat perkembangan
agama‐agama di dunia maka berbagai pandangan tentang
jumlah Tuhan ini sangat beragam, mulai dari yang monoteis (satuTuhan), diteisataudualism
(duaTuhan), triteisatautirinitas (tigatuhan), hinggapoliteis (banyakTuhan) dalam
berbagai bentuknya. Untuk itu, kita perlu menentukan pilihan kita dari berbagai
pandangan tersebut dengan argumentasi yang kokoh dan utuh.
Tauhid adalah hal penting
yang membedakan agama lain dengan Islam sebagai agama yang meyakini keesaan Allah,
selain itu tauhid adalah dasar iman seorang muslim, karna itu tidak sempurna iman
seorang muslim tanpa didasarkan tauhid. Tapi bagaimana mungkin kita bisa mengetahui
apakah tauhid itu sudah ada bersama iman kita, sedangkan kita tidak mengetahui arti
dan hakekat tauhid itu sendiri.
Karna makna tauhid sendiri
bukan sekedar mengesakan Allah SWT, bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta
alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang
kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan)Nya, dan bukan pula sekedar
mengenal Asma’dan SifatNya.
Sebagai contoh Iblis mempercayai
bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah dengan
meminta kepada Allah melalui Asma’ dan SifatNya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi
Rasulullah, juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa
alam semesta ini adalah Allah. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah
menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, atau yang beriman kepada
Allah.
Dalam islam, tauhid mempunyai
peranan yang sangat penting, bahkan seperti yang kita ketahui bahwa dalam rukun
islam yang petama meminta kita untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang didalamnya
terdapat kalmiat tauhid.
Oleh sebab itu, makalah
ini kami buat selain untuk memenuhi tugas MataKuliah pendidikan agama islam, kami
bermaksud untuk berbagi ilmu tentang tauhid yang kami ketahui dan kami dapatkan
dari referensi tertentu. Dan kami berharap apa yang di tulis dimakalah ini dapat
bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah
Pengertian Tauhid ?
2. Bagaimanakah
Macam-macam Tauhid ?
PEMBAHASAN
2.1.
PENGERTIAN
TAUHID
Definisi Tauhid
Kata “tauhid” di dalam
bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata kerja wahhada-yuwahhidu-tawhidan,
yang arti harfiyahnya: menyatukan, mengesakan, atau mengakui bahwa sesuatu itu
satu. Dengan demikian, secara bahasa, tauhidullah berarti menyatukan
Allah, mengesakan Allah atau mengakui
bahwa Allah itu satu. Sedangkan secara istilah, tauhidullah bermakna mengesakan
Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, serta tidak
menyekutukan-Nya dengan apapun baik dalam hal rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya,
maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.
Islam meyakini bahwa
Allah swt adalah Esa secara mutlak, Tidak berbilang dan tidak bersekutu dalam
hal apapun. Siapa Saja yang meyakini sebaliknya,maka Ia telah jatuh pada
kezhaliman dan dosa Yang besar (syirk). Dimensi terpenting Dari persoalan
tauhid adalah masalah keesaan Allah ini, karena itu ushuluddin pertama ini di
sebut at‐tauhid.
Tauhid berasal dari akar kata ahad Atau wahid
yang artinya satu. Dalam Islam, ia adalah asas keyakinan (akidah) bahwa Tuhan
Itu hanya satu, Yakni Allah swt Dan tidak ada yang setara juga sekutu dengan‐Nya.
Dia yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Hanya Dia yang ditaati dan
ditakuti. Hanya Dia yang menentukan segala Sesuatu di dunia dan akhirat nanti.
Tauhid Dirangkum dalam kalimat tahlil, Laailaahaillallaah (tidak ada Tuhan
selain Allah).
Tapi bukan berarti
semua orang yang mengucapkan kalimat “LaailaahaillaAllah”, serta merta menjadi
Orang yang sudah bertauhid (merealisasikannya). Akan tetapi, menurut para
ulama, agar menjadi seorang yang bertauhid (muwahhid) mesti memenuhi tujuh
syarat berikut ini :
1. Ilmu,
yaitu mengetahui makna dan maksud dari kalimat tauhid itu
2. Yakin,
yaitu meyakini dengan seyakin‐yakinnya akan
komitmen (dari kalimat tauhid itu)
3. Menerima
dengan hati dan lisan (perkataan) segala konsekuensinya.
4. Tunduk
dan patuh akan apa yang diperintahkan‐Nya
dan apa yang dilarang‐Nya
5. Benar
dalam mengatakannya. Artinya, apa yang dikatakannya dengan lidah mesti sesuai
dengan apa yang diyakininya dalam hati.
6. Ikhlas
dalam melakukan, tanpa dicampurinya.
7. Mencintai
kalimat tauhid ini dengan segala konsekuensinya.
Didalam surat Al‐Ikhlash
sudah di jelaskan dengan tegas akan keesaan Allah SWT, dan salah seorang Ulama
Besar pernah menyebutkan “satu alasan lain kenapa al‐Ikhlash
di turunkan adalah untuk menjawab pertanyaan‐pertanyaan
di masa depan tentang Tuhan, dari sebagian kamu yang meraguinya.
"Qul huwallahu
ahad" Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Selain menyebutkan keesaan
Allah SWT. Di ayat ini juga tersirat makna bahwa Allah itu satu dan tunggal, di
ayat ini Allah juga memerintahkan hamba‐Nya
untuk mengesakan‐Nya .
"Alla huas‐samadu"
Allah adalah tuhan yang bergantung kepada‐Nya
segala sesuatu. Allah sebaik-baiknya Maha Pencipta dan yang Maha mengatur serta
Maha perencana atas apa yang sudah dan akan terjadi kepada makhluk ciptaan‐Nya
jadi sudah semestinya Kita hanya Bergantung kepada Allah.
"Lam yalid wa lam
yulad" Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Allah SWT Tunggal dan berdiri sendiri, karna
jika tidak, maka Allah adalah sama seperti kita makhluk hidup, sungguh sesuatu
hal yang mustahil karna bagaimana mungkin seorang mkhluk hidup dapat membuat
keturunan yang beragam dan berbeda", dan bagaimana mungkin makhluk hidup
dapat menciptakan Langit yang secara ilmiah sampai saat ini tidak diketahui
ujungnya dan tidak dapat digapai oleh satupun makhluk hidup.
"wa lam yakun lahu
kufwan ahad" Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Di ayat ini
juga memiliki maksud bahwa pencipta tak sama dengan yang diciptakan. Sebagai
contoh: sebuah meja tidak sama dengan pembuat meja tersebut dalam sifat ataupun
bentuk. Dan makna lain yang terkandung dalam ayat ini adalah keagungan dan
kesempurnaan yang hanya dimiliki Allah SWT dengan Asmaul Husna‐Nya.
2.2.
MACAM-MACAM
TAUHID
A.
TAUHID
RUBUBIYAH
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang
menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat
dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik
hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi
Allah. Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang
menandingi Allah dalam hal ini.
Secara teoritis berarti bahwa Allah adalah
satu-satunya yang mencipta, memiliki, mengatur dan mengurus semesta alam.
Secara praktis tauhid ini berarti manusia harus melucuti sifat-sifat tercela
terutama sombong dan angkuh karena pada dasarnya manusia tidak punya apa-apa.
Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah[[1]],
Padahal kamu mengetahui.” (QS.Al-Baqarah:21-22).
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki
sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku
makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan
lagi sangat kokoh”. (QS.Adz-Dzariyaat:56-58).
Tauhid rububiyah ini merupakan landasan bagi seluruh
kaum muslimin untuk bersyukur kepada Allah . Karena pada hakekatnya dalam
menempuh kehidupan dunia, mereka senantiasa bertemu dengan ciptaan Allah,
dengan pemberian rizki dari Allah dan juga menggunakan segala ‘fasilitas’
miliki Allah . Mereka tidak mungkin lari dari kenyataan ini.
B.
TAUHID
MULKIYAH
Dari segi bahasa, mulkiyah berasal dari kata malika
yamliku (ملك - يملك), yang artinya memiliki dan berkuasa penuh atas yang
dimiliki. Sedangkan dari segi istilahnya adalah mengesakan Allah sebagai
satu-satunya penguasa, pemimpin, satu-satunya pembuat hukum (aturan) dan
pemerintah. Hanya landasan kepemimpinan yang dituntut oleh Allah saja yang
menjadi ikutan kita. Hanya hukuman yang diturunkan oleh Allah saja menjadi
pakaian kita dan hanya perintah dari Allah saja menjadi junjungan kita.
Artinya:”kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan
kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. ketahuilah bahwa segala hukum
(pada hari itu) kepunyaanNya. dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat”.
(QS. Al-An’am : 62)
Artinya:“Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada
di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku[[2]],
sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya
disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia
menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik".
(QS. Al-An’am : 56)
Artinya:”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang
telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas
'Arsy[[3]].
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A’raaf :54)
Artinya:”Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa
yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang
yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat[[4]]”.
(QS. An-Nisaa’: 105)
C.
TAUHID
ULUHIYAH
Uluhiyah berasal dari
kata Aliha ya’lihu, (أله - يأله) artinya menyembah. Sedangkan dari segi istilah
adalah mengesakan Allah dalam penyembahan/ peribadahan. Yaitu
tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma'bud (yang disembah). Maka tidak
ada yang diseru dalam do'a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan
kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia,
tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh
mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.
Artinya:”Dan
Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu
dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya
perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada
beruntung”. (QS. Al-Mu’minuun : 117)
Kebanyakan
manusia mengingkari tauhid ini. Oleh sebab itulah Allah SWT mengutus para rasul
Kepada umat manusia, dan menurunkan kitab‐kitab
kepada mereka, agar mereka beribadah Kepada Allah SWT saja dan meninggalkan
ibadah kepada selain‐Nya.
D.
TAUHID ASMA’ WA SIFAT
Tauhid Sifat atau asma Adalah
meyakini bahwa sifat‐sifat yang
ada Pada Allah seperti ilmu, kuasa, hidup, dan sebagainya adalah merupakan hakikat
dzat‐Nya dan Allah memiliki nama dan sifat
baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya. Sifat‐sifat itu tidak sama dengan sifat‐sifat makhluk, yang masing‐masing berdiri
Sendiri dan terpisah dari yang lainnya.
Artinya:”(dia) Pencipta
langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak
ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan
melihat”. (QS. Asy Syuura :11)
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Hukum mempelajari Tauhidullah
adalah wajib'ain, karena semua manusia diwajibkan atau diperintahkan untuk
mengenal allah dan mengakui keesaan-Nya. Dengan mengenal Allah , kita akan
lebih dapat untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya secara baik dan benar.
Karena pemahaman yang baik akan mengantarkan pada amalan yang baik. Amalan yang
baik akan mengarah pada hasil yang baik. Dan hasil yang baik, insya Allah akan
mendapatkan keridhaan Allah . Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai
hamba-hamba-Nya yang benar-benar mentauhidkannya dalam segenap aspek kehidupan
kita. Dan kita berlindung kepada-Nya dari kemusyrikan-kemusyrikan, baik yang
kita sadari ataupun yang tidak kita sadari.
DAFTAR
PUSTAKA
[1]
Ialah segala sesuatu yang disembah di
samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan
sebagainya.
[2] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w.
mempunyai bukti yang nyata atas kebenarannya.
[3]
Bersemayam di atas 'Arsy
ialah satu sifat Allah yang wajib kita
imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[4] Ayat ini dan beberapa ayat
berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan
ia Menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak
mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang
Yahudi. hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan
mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi,
Kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi
sendiri Hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap
orang Yahudi.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar